Kenapa Iklan Google Ads Tiba-tiba Berhenti Tumbuh?
Pernahkah kamu merasa frustrasi karena iklan Google Ads-mu tiba-tiba berhenti berkembang? Semua tampak baik-baik saja: kampanye berjalan lancar, impression share tinggi, shopping feed bersih, budget mengalir… tapi pertumbuhan tidak terjadi. Kamu tidak sendirian. Menurut survei dari WordStream, 63% marketer mengaku mengalami “plateau effect” dalam kampanye Google Ads mereka setelah 6-12 bulan berjalan.
Kesalahpahaman Terbesar tentang Google Ads
Banyak yang mengira masalahnya ada di settingan kampanye, bidding strategy, atau keyword selection. Padahal, seringkali masalahnya lebih mendasar: Google Ads tidak menciptakan demand, tapi hanya menangkap demand yang sudah ada.
Ilustrasi Sederhana: Kolam Renang vs Sumur
Bayangkan Google Ads seperti memancing di kolam renang. Kamu bisa punya pancing terbaik, umpan terenak, dan teknik sempurna. Tapi kalau ikan di kolamnya cuma 100 ekor, kamu tidak akan pernah dapat 1000 ikan, berapapun budget yang kamu keluarkan. Inilah batasan fundamental dari Search dan Shopping Ads.
Search dan Shopping: Demand Capture Channels
Mari kita sebut Search dan Shopping Ads dengan nama sebenarnya: saluran penangkap permintaan. Mereka bagus untuk menjangkau orang yang sudah siap membeli atau sedang aktif riset. Tapi sifatnya reaktif – iklan hanya muncul ketika seseorang mengetik query. Tidak ada query, tidak ada iklan.
Impression Share yang Menipu
Impression share 90% terlihat seperti kamu menang (dan memang benar). Tapi jika hanya ada 500 pencarian relevan di pasar kamu bulan ini, kamu tidak akan pernah mencapai 5.000 klik hanya dengan menaikkan bid. Data dari Google sendiri menunjukkan bahwa 78% bisnis dengan impression share di atas 85% mengalami stagnasi pertumbuhan dalam 3 bulan berikutnya.
Broad Match dan AI Max: Bukan Solusi Ajaib
Broad match dan kampanye seperti AI Max bisa memperluas jangkauan dengan menampilkan query terkait. Tapi mereka tetap bergantung pada intent. Jika tidak ada yang mencari istilah terkait, tidak ada yang bisa dicocokkan. Studi kasus dari Search Engine Land menunjukkan bahwa broad match hanya meningkatkan volume pencarian maksimal 15-25%, bukan menciptakan permintaan baru.
Platform Lain Bekerja Berbeda
Bandingkan dengan platform seperti Meta atau TikTok, di mana lebih banyak budget berarti lebih banyak reach. Search tidak bekerja seperti itu. Search bukan generator demand – dia adalah “closer” yang menyelesaikan transaksi.
Dari Mana Demand Sebenarnya Berasal?
Jika Search dan Shopping tidak bisa menciptakan demand, lalu apa yang bisa? Marketer telah lama mengelompokkan channel ke dalam tiga kategori: owned, earned, dan paid.
Owned Media: Channel yang Kamu Kontrol
Ini adalah channel yang kamu kendalikan: website, email, konten, dan CRM. Mereka biasanya tidak menciptakan demand baru, tapi kritis untuk memeliharanya.
- Contoh D2C: Brand fashion lokal yang menjalankan “early access VIP” sebelum Harbolnas. Daftar email itu kemudian menjadi bahan bakar branded search saat sale dimulai.
- Contoh SaaS: Perusahaan software yang menerbitkan blog FAQ yang muncul untuk query riset awal, mendorong prospek yang kemudian Google brand mereka langsung.
Earned Media: Kredibilitas yang Tidak Dibeli
Channel yang tidak kamu bayar langsung: mention PR, visibilitas SEO, review, social organik, dan word of mouth.
- Produk yang masuk dalam gift guide media ternama? Branded search melonjak minggu berikutnya.
- TikTok yang viral secara organik? Google Trends mencatatnya beberapa hari kemudian.
- Review positif di Google My Business? Mereka mendorong orang kembali ke Google untuk mengecek situs atau membandingkan harga.
Menurut penelitian dari Nielsen, earned media memiliki dampak 3x lebih besar pada branded search dibandingkan paid media langsung.
Paid Media: Pencipta dan Penangkap Demand
Paid media mencakup kedua jenis: demand-capture channels (Search dan Shopping) dan demand-creation channels.
- Meta & TikTok: Menunjukkan produk kamu dalam aksi kepada orang yang belum mencari
- YouTube: Menceritakan brand story melalui pre-roll ads
- Pinterest: Muncul di papan hadiah seseorang berminggu-minggu sebelum pembelian
Percikan ini menghasilkan rasa ingin tahu, yang kemudian berubah menjadi branded searches.
Funnel yang Sesungguhnya (Tanpa Omong Kosong)
Kamu mungkin pernah mendengar ini sebelumnya, tapi penting untuk spesifik tentang di mana Search dan Shopping benar-benar cocok. Mereka paling kuat di conversion, tapi juga muncul selama fase consideration dalam perjalanan pembeli.
Awareness: Tahap Orang Pertama Kali Menyadari Kamu Ada
Contoh: Brand skincare lokal menjalankan iklan TikTok yang menunjukkan serum mereka dalam aksi, atau perusahaan B2B SaaS mungkin menjalankan YouTube pre-roll yang menjelaskan fitur platform populer.
Tip: Di sinilah kampanye video Meta, iklan TikTok, YouTube pre-roll, Pinterest promoted pins, penempatan PR, dan konten influencer hidup. Channel ini tidak menunggu intent – mereka memicunya.
Consideration: Tahap Orang Membandingkan dan Riset
Contoh: Pembeli skincare itu mungkin membaca review, mendaftar untuk “early access,” dan kemudian mencari “serum vitamin C terbaik.” Di B2B, prospek bisa mengunduh case study dan kemudian Google “tools CRM terbaik untuk UKM.”
Tip: Di sinilah kampanye search generik (misalnya, “[produk] terbaik” atau “[kategori] terjangkau”), shopping ads dengan query perbandingan, alur nurture CRM, konten SEO, dan retargeting via Meta/display/YouTube masuk. Tahap ini tentang penegasan, edukasi, dan visibilitas sementara prospek mempertimbangkan pilihan mereka.
Conversion: Tahap Orang Membeli
Contoh: Dua minggu setelah pertama kali menyadari brand tersebut, pembeli skincare mencari “Serum Brand X” dan membeli via Shopping. Setelah banyak perbandingan, prospek B2B mencari “harga [Nama Vendor]” dan menyelesaikan formulir permintaan demo.
Tip: Di sinilah branded search, shopping queries dengan intent tinggi, retargeting ke cart abandoners, dan PMax remarketing menutup transaksi.
Apa yang Harus Dilakukan Ketika Search Mencapai Batasnya?
Ketika pertumbuhan mandek, solusinya bukan “habiskan lebih banyak di search.” Tapi menciptakan demand lebih awal. Berikut cara melakukannya, dibagi berdasarkan level budget.
Untuk Budget Kecil: Fokus pada High-Leverage Plays
- Kembangkan daftar CRM: Jalankan iklan lead-gen sederhana, seperti “daftar untuk early access” atau “exclusive drops.” Bahkan Rp 5-8 juta di Meta bisa membangun daftar yang tidak memerlukan biaya untuk di-email nanti.
- Jalankan kampanye warm-up: Iklan video atau carousel berbiaya rendah di Meta atau TikTok membangun kumpulan remarketing yang bisa kamu retarget dengan Google Display atau YouTube Ads yang lebih murah.
- Optimalkan situs kamu: Gift guides, FAQ, batas pengiriman. Landing page yang buruk membuang setiap klik yang telah kamu perjuangkan.
- Jaga remarketing tetap aktif: Display, YouTube, atau PMax remarketing yang aktif seringkali lebih murah daripada mengejar klik baru di search.
Untuk Budget Besar: Mainkan Full-Funnel
- Jalankan awareness selalu aktif: Meta, YouTube, TikTok, Pinterest. Urutkan kreatif kamu dengan mengawali dengan teaser, mengungkapkan di pertengahan musim, dan kemudian mendorong penawaran ketika intent memuncak.
- Segmentasi CRM dengan benar: VIP pantas mendapatkan eksklusif. Pembeli yang sudah lama tidak membeli memerlukan reactivation. Pembeli hadiah menginginkan bundel. Sesuaikan perjalanan mereka.
- Investasi di influencer dan PR: Gift guides, unboxings, konten berbasis tren. Penempatan ini memicu branded search demand lebih cepat daripada penyesuaian keyword apa pun.
- Personalisasi situs kamu: Mesin rekomendasi dan konten dinamis menjaga orang tetap pada jalur pembelian.
Hal yang Harus Dicek Semua Orang
- Cek impression share: Jika kamu di 90%+, kamu mendekati batas. Broad match dan AI Max mungkin memperluas cakupan, tapi mereka tidak akan menciptakan intent.
- Lacak branded search: Jika branded queries tidak naik, awareness datar.
- Pertahankan remarketing aktif: Ini adalah buah yang paling mudah dipetik.
Aset yang Perlu Disiapkan
Perbaiki dasar-dasarnya sebelum kamu menuangkan uang ke awareness. Penciptaan demand sia-sia jika funnel kamu bocor.
Kreatif Assets untuk Berbagai Platform
Jangan hanya memikirkan “video” atau “beberapa gambar.” Platform berbeda memerlukan format dan ukuran berbeda.
- Meta: Vertikal (Reels/Stories), persegi (Feed), dan landscape (In-stream)
- TikTok: Vertikal layar penuh, dengan teks/subtitle karena viewing tanpa suara umum
- YouTube: Rasio horizontal 16:9 untuk penempatan standar, tapi juga vertikal Shorts untuk audiens mobile
- Pinterest: Gambar gaya hidup vertikal cenderung mengungguli bidikan produk saja
- Display: Format responsif berarti kamu harus merencanakan teks + berbagai rasio gambar sehingga algoritma memiliki variasi untuk diuji
Landing Pages yang Efektif
Jangan kirim traffic awareness ke homepage generik. Bangun halaman yang:
- Menjawab FAQ
- Menyoroti batas pengiriman (kritis di Q4)
- Menampilkan bundel atau gift guides untuk pembeli musiman
- Untuk B2B: Sesuaikan landing pages dengan industri atau persona
Setup CRM yang Tepat
Bahkan alur nurture sederhana lebih baik daripada tidak sama sekali. Tangkap email di tahap awareness/consideration dan follow up.
- VIPs: Eksklusif
- Pembeli yang sudah lama tidak membeli: Alur reactivation
- Prospek: Urutan edukasi
AI: Membantu, Tapi Bukan Jalan Pintas
AI ada di mana-mana sekarang. Tools seperti Performance Max, AI Max, dan generator kreatif sangat kuat. Digunakan dengan baik, AI dapat menghemat waktu dan mengeksekusi skala.
Tapi AI tidak mengubah aturan demand. AI masih bergantung pada intent yang sudah ada. Dan jika kamu membiarkannya berjalan tanpa kendali, kamu berisiko kehilangan apa yang membuat brand kamu menonjol.
Pikirkan AI sebagai akselerator: AI dapat mempercepat eksekusi, tapi tidak dapat mendefinisikan brand, audiens, atau strategi kamu. Itu masih memerlukan marketer manusia.
Cara Menjelaskan ke Stakeholder dan Mengukur Demand Creation
Jika kamu menjelaskan ini ke board atau klien, buat tetap sederhana:
- Mulai dengan ini: Search merespons demand; tidak menciptakannya
- Tunjukkan impression share mereka: Jika sudah di 90%+, masalahnya bukan cakupan – tapi demand
- Tunjukkan tren branded search: Branded queries datar berarti awareness datar
- Soroti aktivitas kompetitor: Tunjukkan di mana pesaing menciptakan demand – Meta, TikTok, PR, atau Pinterest. Itulah mengapa branded search traffic mereka naik
Jangan hanya menunjukkan data performa. Tunjukkan di mana kesenjangan demand-nya.
Batasnya Bukan Google Ads – Tapi Demand
Kenyataannya, inilah arah PPC menuju. Pertumbuhan query mendatar, AI search membentuk ulang bagaimana hasil muncul, dan brand demand menjadi pengungkit performa yang sebenarnya.
Lain kali seseorang berkata, “Google Ads tidak mendorong traffic,” balik pertanyaannya pada mereka: Apakah ada demand untuk ditangkap sejak awal? Karena jika kamu hanya menjalankan Search dan Shopping, kamu tidak bisa tumbuh melampaui demand yang sudah ada.
Brand yang menang bukan yang memeras bid dan terobsesi dengan fluktuasi CPC. Mereka adalah yang secara konsisten menciptakan demand di hulu: awareness, SEO, konten, influencer, CRM, video, dan sosial – semua bekerja sama untuk mempersiapkan pasar.
Jadi ketika pertumbuhan mandek, pertanyaan sebenarnya bukan, “Apa yang salah dengan Google Ads?” Tapi “Apa yang kita lakukan untuk menciptakan demand yang memicu pencarian di masa depan?”



