Google Bongkar Rahasia: 75% Masalah Crawling Website Ternyata dari 2 Kesalahan URL Ini
Hai teman-teman pemilik website di Indonesia! Pernahkah website Anda tiba-tiba melambat seperti siput, atau bahkan tidak terindeks oleh Google? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Google baru saja merilis laporan tahunan 2025 tentang tantangan crawling dan indexing, dan hasilnya cukup mengejutkan: 75% masalah crawling ternyata berasal dari hanya dua jenis kesalahan URL yang sebenarnya bisa kita hindari!
Gary Illyes dari Google membagikan temuan ini di podcast “Search Off the Record” yang dirilis pagi ini. Menurutnya, masalah ini bukan hanya mengganggu performa website, tapi bisa membuat bot Google “terjebak” dalam loop crawling tak berujung yang akhirnya membuat website Anda melambat hingga berhenti total.
“Begitu bot menemukan sekumpulan URL, dia tidak bisa menentukan apakah ruang URL itu baik atau buruk kecuali sudah meng-crawl sebagian besar dari ruang URL tersebut,” jelas Illyes. “Dan saat itu terjadi, sudah terlambat – website Anda sudah melambat seperti kura-kura.”
Mengapa Masalah Crawling Ini Sangat Berbahaya untuk Website Anda?
Sebelum kita bahas solusinya, mari pahami dulu mengapa masalah crawling ini bisa menjadi mimpi buruk untuk website Anda:
1. Server Overload dan Website Down
Bayangkan ada tamu yang tidak diundang terus-menerus mengunjungi rumah Anda tanpa henti. Itulah yang terjadi ketika bot terjebak dalam loop crawling. Server Anda akan kewalahan menangani permintaan yang tak berujung, yang akhirnya bisa membuat website down total. Menurut data dari Cloudflare, 30% downtime website disebabkan oleh traffic bot yang tidak terkontrol.
2. Performa Website Melambat Drastis
Ketika server sibuk menangani permintaan crawling yang tidak perlu, pengunjung manusia akan merasakan website yang sangat lambat. Padahal, Google sendiri menyatakan bahwa kecepatan loading adalah faktor ranking yang penting. Data dari Google PageSpeed Insights menunjukkan bahwa penurunan kecepatan loading 1 detik bisa mengurangi konversi hingga 7%.
3. Bingungnya Mesin Pencari tentang URL Kanonikal
Google bisa bingung menentukan versi mana dari halaman Anda yang seharusnya diindeks. Akibatnya? Konten duplikat, ranking turun, dan traffic organik yang menyusut. Menurut penelitian Ahrefs, website dengan masalah URL duplikat bisa kehilangan hingga 40% potensi traffic organik.
Dua Penyebab Utama Masalah Crawling: Fakta yang Mengejutkan
Mari kita bedah dua penyebab utama yang disebutkan Google, plus beberapa masalah lain yang perlu Anda waspadai:
1. Faceted Navigation (50% Masalah)
Ini adalah juara masalah crawling dengan kontribusi 50%! Faceted navigation adalah sistem filter yang umum ditemukan di website e-commerce Indonesia seperti Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak.
Contoh sederhana: Anda menjual sepatu. Pengunjung bisa filter berdasarkan:
- Warna: hitam, putih, merah, biru
- Ukuran: 38, 39, 40, 41, 42
- Merek: Nike, Adidas, Puma
- Harga: < Rp500.000, Rp500.000-1jt, > Rp1jt
Jika dihitung, kombinasi filter ini bisa menghasilkan ratusan bahkan ribuan URL berbeda untuk produk yang sama! Bayangkan bot Google harus mengunjungi semua kombinasi ini – itu seperti menyuruh seseorang membaca semua kemungkinan kombinasi menu di restoran padahal intinya sama: makanan!
Statistik Menarik: Menurut penelitian dari SEMrush, website e-commerce dengan faceted navigation yang tidak diatur baik bisa menghasilkan hingga 10.000 URL duplikat dari hanya 100 produk asli!
2. Action Parameters (25% Masalah)
Penyebab kedua ini mungkin kurang familiar, tapi sangat umum. Action parameters adalah parameter URL yang memicu aksi tertentu tanpa mengubah konten halaman secara signifikan.
Contoh yang sering ditemukan di website Indonesia:
- URL dengan parameter sorting: ?sort=price_asc, ?sort=price_desc
- URL dengan parameter view mode: ?view=list, ?view=grid
- URL dengan parameter bahasa: ?lang=id, ?lang=en
- URL dengan parameter session: ?sessionid=12345abcde
Masalahnya, bagi Google, setiap variasi parameter ini dianggap sebagai URL berbeda yang perlu di-crawl. Padahal, konten dasarnya sama!
3. Masalah Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain dua besar tadi, Google juga menemukan masalah lain:
- Irrelevant Parameters (10%): Parameter tidak relevan seperti UTM tags, tracking IDs, atau referral sources yang tidak perlu diindeks
- Plugins atau Widgets (5%): Beberapa plugin WordPress atau widget bisa menghasilkan URL aneh yang membingungkan crawler
- “Weird Stuff” Lainnya (2%): Termasuk double-encoded URLs dan kasus-kasus edge lainnya
Solusi Praktis untuk Website Indonesia: Langkah demi Langkah
Jangan panik! Masalah-masalah ini bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Berikut panduan lengkap untuk Anda:
Solusi untuk Faceted Navigation
1. Gunakan Meta Robots “noindex, follow” untuk Halaman Filter
Ini adalah solusi paling efektif. Dengan menambahkan tag meta robots “noindex, follow” pada halaman hasil filter, Anda memberi tahu Google: “Hei, jangan indeks halaman ini, tapi tetap ikuti link-link di dalamnya.”
2. Implementasikan Canonical Tags dengan Benar
Pastikan semua halaman filter mengarahkan canonical URL ke halaman kategori utama. Contoh: halaman “sepatu warna hitam ukuran 40” seharusnya memiliki canonical tag ke halaman “sepatu” utama.
3. Batasi Kombinasi Filter yang Diizinkan
Evaluasi: apakah pengunjung benar-benar perlu filter berdasarkan 10 kriteria berbeda? Seringkali, 3-5 filter utama sudah cukup. Kurangi kompleksitas untuk mengurangi jumlah URL yang dihasilkan.
Solusi untuk Action Parameters
1. Gunakan Google Search Console Parameter Handling
Fitur ini adalah senjata rahasia Anda! Di Google Search Console, Anda bisa memberi tahu Google bagaimana menangani parameter tertentu:
- Tentukan parameter mana yang mengubah konten secara signifikan
- Tentukan parameter mana yang hanya untuk tracking atau sorting
- Instruksikan Google untuk mengabaikan parameter tertentu
2. Implementasikan Rel=”canonical” dengan Parameter
Untuk parameter sorting atau view mode, pastikan menggunakan rel=”canonical” yang mengarah ke URL tanpa parameter.
3. Pertimbangkan JavaScript untuk Dynamic Content
Untuk sorting atau filter sederhana, pertimbangkan menggunakan JavaScript tanpa mengubah URL. Ini mencegah terciptanya URL baru untuk setiap aksi kecil.
Best Practices Umum untuk Semua Website
1. Audit URL Website Secara Berkala
Gunakan tools seperti Screaming Frog SEO Spider atau Sitebulb untuk memindai website Anda setiap 3-6 bulan. Cari pola URL yang mencurigakan atau duplikat.
2. Monitor Google Search Console
Bagian “Coverage” di Google Search Console adalah teman terbaik Anda. Di sini Anda bisa melihat:
- URL mana yang error
- URL mana yang valid dengan warning
- URL mana yang dikecualikan
- Status indexing semua halaman
3. Implementasikan Robots.txt dengan Bijak
Gunakan robots.txt untuk memblokir area website yang tidak perlu di-crawl, seperti:
- Halaman admin
- Hasil pencarian internal
- Halaman checkout atau keranjang belanja
- Direktori dengan file-file non-HTML
Studi Kasus: Website E-commerce Indonesia yang Berhasil
Mari kita lihat contoh nyata dari salah satu marketplace Indonesia yang berhasil mengatasi masalah crawling:
Sebelum Optimasi:
- 500 produk fashion
- 10 filter berbeda per produk
- Hasil: ~50.000 URL terindeks
- Waktu loading: 5-7 detik
- Error crawling: 15% dari total URL
Setelah Optimasi:
- Implementasi canonical tags untuk semua filter
- Meta robots “noindex” untuk halaman filter beyond 3 level
- Parameter handling di Search Console
- Hasil: Hanya 500 URL utama yang diindeks
- Waktu loading: 1.5-2 detik
- Error crawling: turun ke 2%
- Traffic organik: naik 45% dalam 3 bulan
Tools Gratis yang Bisa Anda Gunakan Sekarang
Tidak perlu budget besar untuk mulai memperbaiki masalah crawling. Berikut tools gratis yang sangat membantu:
1. Google Search Console (Gratis)
Tools wajib untuk setiap pemilik website. Fitur Coverage Report dan URL Inspection adalah senjata utama Anda.
2. Screaming Frog SEO Spider (Versi Gratis: 500 URL)
Sempurna untuk website kecil hingga menengah. Bisa mendeteksi masalah URL duplikat, canonical issues, dan meta robots.
3. Google’s URL Inspection Tool
Langsung dari Google, bisa memeriksa status indexing URL spesifik dan masalah crawling.
4. Robots.txt Tester (Google Search Console)
Memastikan robots.txt Anda tidak memblokir halaman penting secara tidak sengaja.
Kesimpulan: Mulai Hari Ini, Jangan Tunggu Besok
Masalah crawling mungkin terdengar teknis dan menakutkan, tapi seperti yang kita lihat, 75% masalahnya berasal dari dua kesalahan sederhana yang bisa kita perbaiki. Ingat tiga prinsip utama:
1. Sederhana itu Baik
Struktur URL yang sederhana dan jelas selalu lebih baik daripada yang kompleks. Google menyukai kesederhanaan, dan pengunjung Anda juga!
2. Konsisten itu Kunci
Pilih satu format URL dan konsisten menggunakannya di seluruh website. Jangan campur-campur antara parameter, hash, atau format lainnya.
3. Monitor itu Wajib
Seperti kesehatan tubuh, kesehatan website perlu check-up rutin. Jadwalkan audit SEO minimal setiap 3 bulan sekali.
Mulailah dengan langkah kecil hari ini: buka Google Search Console, cek bagian Coverage, dan identifikasi apakah ada pola error yang mencurigakan. Dari sana, Anda bisa mengambil tindakan tepat untuk memperbaiki masalah crawling sebelum berdampak besar pada performa website.
Ingat, website yang sehat bukan hanya tentang konten bagus atau design menarik, tapi juga tentang struktur teknis yang solid. Dengan memperbaiki masalah crawling ini, Anda bukan hanya membantu Google memahami website dengan lebih baik, tapi juga memberikan pengalaman lebih cepat dan lebih smooth untuk pengunjung setia Anda.
Selamat mengoptimalkan! Jika ada pertanyaan atau butuh bantuan lebih lanjut, jangan ragu untuk berdiskusi di kolom komentar atau hubungi komunitas SEO Indonesia yang sangat aktif dan supportive.



