Dari Otomatisasi ke Autonomi: Era Baru Manajemen PPC di Indonesia
Selama bertahun-tahun, otomatisasi telah mengubah wajah manajemen akun PPC (Pay-Per-Click) di Indonesia. Dari aturan sederhana, script, hingga workflow berbasis API di Google Ads, semuanya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi digital marketing. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 85% marketer di Indonesia sudah familiar dengan automated bidding, optimasi berbasis data, dan berbagai peningkatan berbasis AI lainnya.
Tapi pergeseran berikutnya akan lebih jauh lagi. Dua perkembangan khususnya sedang mengubah cara kampanye PPC dikelola dan dioptimalkan: AI agents dan vibe coding. Bersama-sama, mereka menunjuk ke cara kerja yang lebih otonom, di mana eksekusi semakin bergeser ke AI – sementara marketer fokus pada strategi, sistem, dan arahan kreatif.
Perubahan ini membuka level efisiensi dan fleksibilitas baru, tetapi juga mengubah wajah manajemen PPC yang efektif. Di Indonesia, di mana pertumbuhan e-commerce mencapai 23% per tahun, adaptasi teknologi ini menjadi kunci untuk tetap kompetitif.
Agentic AI: Partner AI yang Bekerja Secara Mandiri
Google meluncurkan Agentic Ads Advisor pada November 2025, dan tool ini sudah mulai digunakan oleh advertiser di Indonesia. Tool ini menggunakan model Gemini terbaru untuk membantu advertiser menemukan insight dan meningkatkan performa kampanye.
Apa Itu Agentic AI yang Sebenarnya?
Google mendeskripsikan Ads Advisor sebagai: “Partner AI Anda yang membantu Anda mengelola kampanye secara proaktif langsung di dalam Google Ads. Tool ini membantu Anda memahami konteks bisnis dan menyederhanakan pekerjaan dengan belajar dari interaksi Anda untuk meningkatkan hasil kampanye.”
Tujuan utamanya adalah membantu advertiser menganalisis dan mengoptimalkan kampanye lebih efisien. Namun, muncul pertanyaan penting: apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh tool agentic AI?
Agentic AI seharusnya berfungsi sebagai agen otonom. Tool ini harus mampu menampilkan informasi saat dibutuhkan, tetapi juga harus bisa beroperasi secara independen saat tepat. Ini termasuk mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan setup kampanye, aset dan copy iklan, search terms, dan input lainnya. Yang lebih penting lagi, tool ini harus mampu mengimplementasikan perubahan tertentu, bukan hanya merekomendasikannya.
Cara Agentic AI Digunakan dalam Workflow PPC
AI agents dirancang untuk menjadi otonom. Mereka harus bisa membuat keputusan tanpa input manusia yang konstan, secara aktif mengelola, menyesuaikan, dan mengoptimalkan kampanye secara real-time. Jika agentic AI hanya memberikan saran atau laporan, banyak potensinya yang hilang.
Dalam praktiknya, agentic AI dapat menangani:
- Strategi bidding yang adaptif dengan kondisi pasar
- Penempatan iklan yang optimal berdasarkan performa
- Targeting audience yang lebih presisi
- Creative testing yang berkelanjutan
Alih-alih hanya menyesuaikan bid atau budget, agentic AI dapat membuat keputusan on-the-fly, mengoptimalkan kampanye berdasarkan data performa live, seasonality, aktivitas kompetitor, dan tren perilaku pengguna.
Mengapa Agentic AI Relevan untuk Marketer PPC Indonesia
Untuk marketer PPC berpengalaman di Indonesia, daya tarik agentic AI terletak pada kemampuannya untuk menskalakan kampanye tanpa mengorbankan kontrol strategis. Di sinilah agentic AI menjadi game-changer sebenarnya.
Keuntungan Utama Agentic AI
- Optimasi Real-time: Alih-alih menunggu sehari penuh agar penyesuaian bid berlaku, agentic AI dapat merespons dalam hitungan menit, memungkinkan kampanye beradaptasi cepat dengan kondisi pasar yang berubah.
- Kreativitas Berbasis Data: Agentic AI tidak terbatas pada metrik performa. Tool ini dapat menganalisis elemen kreatif dan interaksi audience, menguji kombinasi visual, copy, dan CTAs untuk mengidentifikasi iklan dengan performa terbaik.
- Pengurangan Human Error: Dengan intervensi manual yang lebih sedikit, risiko kesalahan atau peluang yang terlewat menurun. Ini memungkinkan profesional PPC menghabiskan lebih banyak waktu untuk strategi level tinggi daripada eksekusi.
Meskipun memiliki potensi besar, agentic AI masih membutuhkan pengawasan yang terinformasi. Profesional PPC harus memahami cara mengevaluasi dan menerapkan output AI, terutama ketika menyelaraskan keputusan dengan tujuan marketing yang lebih luas.
Vibe Coding: Membangun Tool Sendiri Tanpa Keahlian Coding
Sejalan dengan bangkitnya agentic AI, konsep lain sedang mendapatkan traksi di dunia marketing: vibe coding. Intinya, vibe coding adalah cara bekerja dengan platform berbasis AI untuk membangun kampanye, tool, landing page, atau sistem lain yang lebih personal, intuitif, dan berbasis data.
Singkatnya, vibe coding memungkinkan Anda bertindak sebagai developer, meskipun Anda bukan seorang developer. Dengan tool seperti Cursor, Lovable, dan AI Studio, Anda dapat mendeskripsikan apa yang Anda butuhkan dan membiarkan sistem membangunnya. Dengan menyempurnakan prompt dari waktu ke waktu, Anda dapat memiliki tool yang dipersonalisasi yang melakukan persis apa yang Anda inginkan, dengan gaya Anda sendiri.
Contoh Penerapan Vibe Coding dalam Marketing
Vibe coding telah terbukti sangat berharga dalam berbagai konteks:
- Generator schema markup SEO untuk meningkatkan visibilitas
- Tool audit kampanye dan SEO yang otomatis
- Sistem yang menghasilkan ide marketing hanya dengan memasukkan URL website
- Tool tracking nutrisi harian untuk lifestyle sehat
- Generator workout CrossFit custom berdasarkan data Garmin dan Strava
Sekali Anda mulai membangun dengan cara ini, menjadi mudah untuk terus memperluas apa yang Anda buat.
Menerapkan Vibe Coding dalam Workflow PPC
Di luar membangun tool standalone, vibe coding menjadi lebih powerful ketika dikombinasikan dengan agentic AI. Kombinasi ini memungkinkan marketer membangun AI agents mereka sendiri untuk pekerjaan PPC.
Contoh Praktis: Sistem Agentic AI Custom
Frederick Vallaeys telah menunjukkan cara membangun tool custom untuk kampanye PPC, meskipun contohnya mengandalkan memasukkan data secara manual sebelum tool dapat beroperasi. Dengan menambahkan layer AI agent, langkah ini dapat diotomatisasi.
Alih-alih input manual, agent dapat menarik data melalui Google Ads API, memproses dan memformatnya sesuai kebutuhan, dan kemudian mengeksekusi tugas spesifik. Dalam contoh Vallaeys, tugas tersebut adalah analisis seasonality.
Dari sana, kemungkinannya berkembang. Anda dapat membangun:
- Keyword agent untuk mengidentifikasi peluang baru
- Ad copy agent yang menghasilkan konten kreatif berdasarkan data performa
- Creative agent yang menghasilkan aset gambar baru
- Data agents, video agents, dan agent khusus lainnya dapat dihubungkan ke dalam satu sistem
Strategi Implementasi untuk Bisnis Indonesia
Berdasarkan pengalaman implementasi di berbagai bisnis Indonesia, berikut strategi yang dapat Anda terapkan:
Fase 1: Persiapan dan Pemahaman (Bulan 1-2)
- Audit kemampuan tim dalam menggunakan tool AI
- Identifikasi proses PPC yang paling membutuhkan otomatisasi
- Pelatihan dasar tentang agentic AI dan vibe coding
- Pilot project dengan budget terbatas untuk testing
Fase 2: Implementasi Terbatas (Bulan 3-4)
- Implementasi Google Ads Advisor untuk kampanye tertentu
- Pengembangan tool sederhana menggunakan vibe coding
- Monitoring dan evaluasi performa secara ketat
- Adjustment berdasarkan hasil dan feedback tim
Fase 3: Skala dan Optimasi (Bulan 5-6)
- Ekspansi ke seluruh kampanye setelah terbukti efektif
- Pengembangan sistem agentic AI custom untuk kebutuhan spesifik
- Integrasi dengan sistem lain (CRM, analytics, dll)
- Continuous improvement berdasarkan data dan tren
Masa Depan PPC: Otonom, Berbasis Data, dan Personal
Kebangkitan teknologi ini membawa tantangan dan peluang sekaligus. Dengan mengadopsi agentic AI dan vibe coding, marketer PPC di Indonesia dapat:
- Streamline operasi dengan efisiensi yang lebih tinggi
- Tingkatkan performa kampanye dengan optimasi real-time
- Pertahankan daya saing di pasar yang semakin kompetitif
- Beda dari kompetitor dengan pendekatan yang lebih canggih
Masa depan PPC adalah otonom, berbasis data, dan lebih personal dari sebelumnya. Mengadopsi agentic AI dan vibe coding menciptakan keunggulan jelas untuk marketer yang memahami cara menerapkannya secara efektif. Keunggulan ini menguntungkan tim internal dan, pada akhirnya, pelanggan.
Kesimpulan: Adaptasi atau Tertinggal
Teknologi ini tidak hadir untuk menggantikan profesional PPC. Mereka dirancang untuk memperluas kemampuan, mengurangi effort manual, dan memungkinkan hasil yang lebih baik dengan friksi yang lebih sedikit. PPC semakin didorong oleh AI, dan beradaptasi dengan pergeseran itu tidak lagi opsional.
Untuk bisnis di Indonesia, waktu untuk mulai bereksperimen dengan teknologi ini adalah sekarang. Mulailah dengan langkah kecil:
- Eksplorasi Google Ads Advisor untuk memahami capabilities-nya
- Coba tool vibe coding sederhana seperti Cursor atau AI Studio
- Ikuti praktisi terkemuka seperti Alfred Simon, Mike Rhodes, dan Ales Sturala untuk insight praktis
- Investasikan dalam pelatihan tim untuk membangun kompetensi AI
- Develop roadmap implementasi yang realistic dan terukur
Dengan pendekatan bertahap dan komitmen untuk belajar, bisnis Indonesia dapat memanfaatkan revolusi PPC ini untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan kompetitif di era digital.



