Mengenal lebih dekat karakter bisnis masing-masing bank
Kalau kamu perhatikan, meskipun sama-sama bergerak di sektor perbankan, keempat raksasa ini punya “kolam” yang berbeda-beda untuk mencari keuntungan. BBCA atau Bank BCA, misalnya, dikenal sebagai raja dana murah. Mereka sangat kuat di transaksi harian kita semua, sehingga biaya dana mereka sangat rendah. Di sisi lain, BBRI atau Bank BRI punya fokus yang sangat spesifik di sektor mikro dan UMKM. Kekuatan mereka ada di pelosok desa melalui jaringan agen Brilink yang sangat luas. Ini yang membuat BRI seringkali punya margin keuntungan yang tebal karena bunga kredit mikro memang lebih tinggi.
Lalu bagaimana dengan BMRI dan BBNI? Bank Mandiri atau BMRI sangat dominan di sektor korporasi besar dan belakangan ini sangat agresif dalam melakukan transformasi digital melalui aplikasi Livin’. Mereka berhasil mengintegrasikan ekosistem bisnis dari hulu ke hilir. Sementara itu, BBNI atau Bank BNI sedang giat melakukan transformasi untuk memperbaiki kualitas asetnya. Mereka punya fokus yang cukup unik, yaitu menjadi jembatan bisnis Indonesia ke pasar internasional dengan kantor cabang luar negeri yang cukup aktif. Memahami karakter ini penting karena ketika ekonomi sedang lesu di satu sektor, bank yang fokus di sana mungkin akan sedikit terhambat.
Angka bicara lewat kinerja keuangan dan efisiensi
Untuk membandingkan mana yang paling cuan, kita tidak bisa hanya melihat kenaikan harga sahamnya saja. Kita perlu mengintip dapur mereka melalui rasio-rasio keuangan. Rasio seperti Return on Equity (ROE) menunjukkan seberapa jago bank tersebut memutar modal dari pemegang saham untuk jadi laba. Selain itu, ada Net Interest Margin (NIM) yang menggambarkan selisih bunga yang mereka terima dengan bunga yang mereka bayarkan. Berikut adalah perbandingan data fundamental dari laporan keuangan terbaru yang saya rangkum secara sederhana untuk kamu:
| Indikator | BBCA | BBRI | BMRI | BBNI |
|---|---|---|---|---|
| NIM (Margin Bunga Bersih) | 5,5% – 6,0% | 7,8% – 8,2% | 5,4% – 5,6% | 4,4% – 4,6% |
| ROE (Tingkat Pengembalian Modal) | 23,5% | 20,1% | 22,8% | 14,5% |
| NPL Gross (Kredit Bermasalah) | 1,9% | 3,1% | 1,0% | 2,1% |
| Laba Bersih (Pertumbuhan YoY) | Stabil Tinggi | Moderat | Sangat Kuat | Bertumbuh |
Dari tabel di atas, saya melihat Bank Mandiri (BMRI) menunjukkan performa yang sangat impresif tahun ini dengan efisiensi yang luar biasa. Namun, BCA tetap menjadi standar emas dalam hal kesehatan aset dengan angka kredit bermasalah (NPL) yang sangat rendah. BRI masih memimpin dalam hal margin bunga, meski mereka harus bekerja keras menjaga kualitas kredit di segmen mikro yang sedikit lebih berisiko.
Menakar valuasi untuk tahu mana yang masih murah
Setelah melihat kinerjanya, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah harganya masih masuk akal untuk dibeli sekarang? Dalam dunia saham perbankan, kita sering menggunakan rasio Price to Book Value (PBV). Sederhananya, PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku atau modal perusahaan. Jika angkanya sudah terlalu tinggi, artinya saham tersebut sudah mulai mahal karena investor berekspektasi sangat tinggi pada masa depan bank tersebut.
BBCA hampir selalu diperdagangkan di PBV yang premium, biasanya di atas 4 kali. Bagi banyak investor, harga mahal ini sebanding dengan rasa tenang yang didapat. BBRI dan BMRI biasanya bergerak di kisaran PBV 2 sampai 2,5 kali. Yang menarik adalah BBNI, yang secara historis seringkali dihargai paling murah di antara keempatnya, terkadang masih di bawah PBV 1,3 kali. Kalau kamu adalah tipe investor yang mencari barang bagus yang masih salah harga atau undervalued, BBNI seringkali menjadi pilihan menarik meskipun kamu harus bersabar menunggu pasar menyadari potensinya.
Strategi memilih yang paling cocok untuk gaya investasimu
Memutuskan mana yang paling cuan sangat bergantung pada profil risiko kamu sendiri. Jika kamu tipe orang yang ingin tidur nyenyak dan tidak terlalu pusing dengan fluktuasi pasar yang tajam, BBCA adalah jawabannya. Mereka punya rekam jejak yang sangat stabil. Namun, kalau kamu mengincar dividen yang besar, BBRI seringkali memberikan kejutan manis setiap tahunnya dengan rasio pembayaran dividen yang cukup royal kepada para pemegang sahamnya.
Bagi saya pribadi, tahun ini Bank Mandiri (BMRI) terlihat sangat menarik karena pertumbuhan labanya yang konsisten melampaui ekspektasi analis. Mereka berhasil membuktikan bahwa bank pelat merah juga bisa sangat efisien dan modern. Di sisi lain, jangan lupakan faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Perbankan adalah sektor yang sangat sensitif terhadap suku bunga. Jika suku bunga mulai turun nanti, bank dengan biaya dana rendah seperti BCA dan Mandiri biasanya akan lebih diuntungkan karena margin mereka tetap terjaga sementara beban bunga simpanan berkurang.
Sebagai penutup dari perbandingan ini, saya ingin mengingatkan bahwa tidak ada satu saham pun yang benar-benar sempurna untuk setiap orang. Investasi di perbankan besar atau Big Caps memang cenderung lebih aman, tapi tetap memerlukan kedisiplinan untuk melakukan dollar cost averaging atau mencicil saat harganya sedang terkoreksi. Dari data-data yang sudah kita bahas tadi, nampaknya persaingan antara BBCA dan BMRI menjadi yang paling sengit dalam hal efisiensi dan profitabilitas tahun ini. Namun, BBRI tetap memikat bagi pencinta dividen, dan BBNI tetap prospektif bagi pemburu nilai. Jadi, dari keempat raksasa ini, mana yang rencananya akan kamu masukkan ke dalam portofolio kamu tahun ini?
Apapun pilihan kamu, pastikan kamu sudah melakukan riset mandiri dan tidak hanya ikut-ikutan tren saja. Investasi adalah lari maraton, bukan lari cepat. Memilih saham bank yang fundamentalnya sehat adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga agar kekayaan kamu terus bertumbuh melampaui inflasi dalam jangka panjang. Semoga ulasan singkat saya ini bisa memberi kamu gambaran yang lebih jernih dalam menyusun strategi investasi. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya, dan semoga portofolio kamu selalu hijau!
Image by: Michael Sol
https://www.pexels.com/@roboseal34



